Flower

Riuhan
tepuk tangan dari beberapa orang menggambarkan betapa bahagia-nya anak
perempuan berusia lima tahun dengan rambut yang dikepang dua serta mengenakan dress pink yang sangat amat cantik.
Aerelya Zavienika, namanya. Hari ini, 25 September 2011 adalah hari ulang
tahunnya. Banyak orang-orang yang menghadiri pesta ulangtahunnya dengan membawa
hadiah yang dibungkus dengan banyak rupa. Senyuman lebar nan mengagumkan
terukir di wajah mungil Lya. Bahagia, bahagia, dan bahagia. Itu selalu ia
rasakan saat hari ulang tahunnya tiba. Pasti, banyak orang yang mendoakan
dirinya agar terus bahagia untuk saat ini dan kedepannya. Lya memang anak dari
orang tua yang berada. Ayahnya, bekerja sebagai manager salah satu perusahaan
besar di Kota Tua, Jakarta. Namun sayang, hari ini sang Ayah tercinta tak dapat
berkumpul bersama dirinya karena alasan pekerjaan, konon katanya. Kue Tart
coklat kini telah di potong menjadi beberapa bagian dan dibagikan kepada
beberapa tamu. Tak lupa, mereka bertiga berfoto bersama dan menikmati kue
tersebut.
Hari
sudah mulai gelap dan angin kencang terus berhembusan di luar sana. Lya yang
tengah asik membuka kado ulang tahun terganggu dengan ketukan pintu yang
berasal dari luar kamar miliknya itu.
“Masukkk”
ucapnya seraya menaikkan nada suara yang ia keluarkan barusan agar terdengar
hingga luar kamar.
Pintu
coklat dengan motif motif khas tahun 80 an terbuka perlahan. Terlihat seorang
lelaki berusia sebelas tahun sedang memasuki kamarnya sembari membawa sesuatu
yang sedang ia sembunyikan dibelakang punggungnya. Kenneth Graciano memberikan sekuntum bunga mawar merah kepada
adik tercinta. Sumringah wajah Lya saat melihat bunga mawar yang diberikan
Kenneth kepada-nya. Ia berterimakasih sembari memeluk Kenneth erat, serta
memberikan beberapa kado miliknya kepada sang Kakak yang sangat ia cintai itu.
Enam
tahun tak terasa cepat sekali berlalu. Banyak sekali yang berubah dari Lya dan
Kenneth. Namun, keluarganya justru malah tambah harmonis. Lya juga menjadi
siswa siswi yang lumayan pintar untuk ukuran anak Sekolah Dasar.
25
September 2017
Lya
yang kecil sudah bertumbuh menjadi gadis cantik berambut lurus bergelombang
dengan paras yang semakin cantik nan manis serta teduh untuk dilihat. Lya
sekarang, sedang bersiap-siap untuk merayakan ulang tahunnya yang ke sebelas
tahun bersama keluarga dan teman-teman sekelasnya. Satu hembusan nafas yang
keluar dari mulut mungilnya, cukup untuk memadamkan api yang membara diatas dua
buah lilin berwarna merah serta tertancap di atas Kue Tart bergambar princess disney, Tiana. Kebahagiaan kembali terukir di wajahnya. Kenneth pun
langsung memberikan hadiahnya kepada Princess
Tiana-nya itu. Sayang seribu sayang kembali terukir pahit di memori Lya.
Kakaknya, ternyata langsung berpamitan untuk pergi terlebih dahulu karena ada
olimpiade yang harus ia ikuti. Lya merubah ekspresinya menjadi cemberut
dihadapan kakaknya itu dan ia berhasil membuat Kenneth merasa iba akan raut
wajah sang Adik yang terlihat sedih karenanya. Namun Lya berhasil tersenyum
saat sang Kakak menyerahkan lima tangkai bunga mawar putih kepada adik
sematawayangnya tersebut. Lya memeluk Samuel penuh makna. Ia sangat bahagia
setiap kali hari ulang tahun datang menghampirinya. Lya membagikan bingkisan
jajan kepada teman temannya dengan senang hati dibantu oleh Almeerha, Ibunya,
dan Khaleed, Ayahnya. Namun sekarang, Kenneth malah tak bersama keluarganya
yang sekarang ini sedang merayakan hari lahir sang Adik.
“Mah,
aku ke sekolah dulu, ya. Aku baru inget, ada olimpiade hari ini,” Ucapnya
dibalas anggukan oleh sang Ibu serta diberi pesan untuk hati-hati dijalan, lalu
setelah itu, Kenneth menghilang dari pandangan mereka semua.
Malamnya,
Lya menghampiri kamar kakaknya dan melihat Ken yang tengah memandangi langit
nan cerah yang dihiasi sinar bintang bintang yang berkedip-kedip diatas sana.
Kenneth menengok saat pintu kamarnya terbuka. Senyum tipis terukir di wajahnya
saat melihat Lya masuk. Sontak, Samuel langsung mengisyaratkan Lya untuk
mendekat kepadanya. Lya berlari kecil ke arah Samuel dan duduk bersama sang
Kakak.
“Kak
Ken,” panggil Lya.
Sontak,
Kenneth menengok kepada Lya sembari mengelus-elus rambut Lya lembut.
“Kak
Ken ngga punya pacar?”
Pertanyaan
Lya sukses membuat dirinya terkejut dan balik bertanya kepada Lya.
“Lya
tahu darimana tentang pacaran?”
“Lya
tadi denger di sekolah, katanya kalau cowok sama cewek saling suka itu namanya
pacaran,”
“Engga
juga, Lya. Kakak juga masih kecil. Belum boleh pacar pacaran. Lagipula, kalau
kakak pacaran, kakak nanti malah bikin pacar kakak sedih,”
“Sedih
kenapa kak? Kakak kan baik,”
Kenneth
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Ngga,
Lya. Kakak cuma bercanda. Kamu belajar dulu ya yang pinter, baru boleh ngurusin
hal hal kaya gitu,”
Lya
mengangguk tanda bahwa ia akan menjalankan apa yang Kakaknya.
“Lya
mau jadi Psikolog, Kak Ken!” Seru Lya.
Dirinya
langsung mengacungkan dua buah jempolnya kepada Lya sembari berpelukan
setelahnya.
“Janji
ke Kakak, ya? Suatu saat nanti, kalau Kakak ulang tahun waktu umur 19, Lya
harus kasi kado ke Kakak,” candanya pada Lya.
“Boleh!
Kakak mau kado apa dari Lya?”
“Bunga
Anyelir Putih, Lya.”
Lya
sontak mengerutkan keningnya heran.
“Kenapa
harus Bunga Anyelir Putih?”
“Ngga
apa-apa, Lya. Kakak suka bunga itu, cantik, kaya Lya,”
Ucap
Kenneth sembari tersenyum kepada Lya.
“Tidur,
Ly. Udah malem. Nanti, mama marah, lagi,”
Lya
mengangguk dan keluar dari kamar milik Kenneth serta meninggalkan dirinya
seorang diri yang sedang menenangkan dirinya sendiri karena sesuatu hal yang
mengganjal dalam dirinya.
Satu
Tahun Kemudian
Satu..
Dua.. Tii.. Ga!
Cekrek!
Semua
orang terlihat berbahagia di hari itu. Sinar kilat saling bersautan dari kanan
ke kiri hingga depan ke belakang. Mereka semua saling mengukir senyuman lebar
yang amat sangat berarti. Tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata
bahagia nya, berpelukan bersama teman-temannya, serta saling menyimpan kenangan
di ponsel mereka masing-masing. Kenneth tersenyum tipis melihat sang adik
tersenyum bahagia di hari kelulusannya itu. Kenneth takut. Takut jikalau sang
Adik tidak akan mengukir senyum lebar itu lagi saat tak ada dirinya nanti. Ia
takut segala hal buruk akan menimpa adik tercintanya itu. Namun, Kenneth
menyingkirkan perasaan takutnya itu dan menghampiri Lya.
“Kak
Ken” seru Lya saat melihat Samuel menghampirinya sembari membawa sebuah bucket berisi jajanan kesukaan Lya.
Kenneth
merangkai bucket itu sendiri, samuel
pula yang membeli jajanan-jajanan kesukaan Lya serta melihat tutorial di youtube dengan mandirinya.
Kenneth
mengelus-elus kepala Lya dengan lembut serta ikut berfoto bersamanya dan foto
itu pun langsung dijadikan polaroid oleh Lya.
“Kak,
kalau Lya lulus SMP nanti, kita foto bareng lagi kaya gini ya!”
Kenneth
membisu sekejap, lalu ia membalas,
“Semoga
masih bisa, Lya. Kakak ga berani janji ke kamu soal ini,”
Jawaban
sang Kakak membuat Lya mengerutkan keningnya heran dan Kenneth langsung menggelengkan kepalanya cepat. Lya sempat
curiga kepadanya. Mengapa? Mengapa dirinya menjawab dengan kata-kata yang
dimana seperti akan... meninggalkan dirinya? Namun, Lya tak ingin memfikirkan
hal itu terlalu jauh. Ia hanya ingin berbahagia pada hari itu bersama
keluarganya. Kenangan-kenangan manis itulah yang nantinya akan mengukir sejarah
paling membekas di kehidupan Lya, salah satunya. Lya telah melepaskan masa-masa
nya di Sekolah Dasar dan bersiap untuk memasuki jenjang yang sedikit lebih
tinggi untuk menggapai cita-citanya sebagai Psikolog. Lya suka pelajaran IPS
sedari kecil. Lya juga merupakan pendengar yang baik. Ia suka dijadikan tempat
untuk bertukar cerita bersama teman-temannya. Ia juga merupakan pribadi yang Friendly atau ramah. Lya juga unggul di
bidang Bahasa Inggris, walaupun masih harus dikembangkan lagi.
Tak
lama kemudian, ia mencoba mendaftar di salah satu SMP Favorit di Kota dimana ia
bertempat, Surabaya. Lya memang lahir di Jakarta, namun karena sesuatu hal, ia
jadi pindah di Surabaya dan menetap disana hingga sekarang. Lya mendaftar SMP
melalui jalur prestasi. Syukurlah, Lya diterima di SMP tersebut dengan golden ticket yang ia dapatkan saat Try Out masuk SMP tersebut dilaksanakan.
Ia menjalani masa-masa pengenalan antarsiswa selama 3 Hari berturut-turut. Dan
dengan mudahnya, Lya mendapat banyak sekali teman dari berbagai kelas dan dari
berbagai kota yang bermacam-macam jenisnya. Hari-hari Lya diisi dengan berbagai
macam cerita dari teman-temannya.
Lya menjadi seorang remaja yang pintar dan
membanggakan, serta menjadi andalan sekolahnya. Namun suatu saat, ia harus
dihadapkan dengan masa yang sangat amat sulit dan membuat dirinya putus asa.
Akankah dirinya mampu menghadapi semua itu sendirian?
Post a Comment